Lyka mengayunkan raketnya ke kanan court lapangan lawannya. Hakim garis membuka lengannya lebar menandakan bola out.

“Game!” wasit mengakhiri pertandingan dengan keunggulan Venice James asal Inggris dengan skor 21-15, 21-17 dalam waktu 35 menit.

Lyka tertunduk lesu dan memaksakan diri untuk bertindak sportif dengan menyalami Venice, wasit, dan service judge. Dia berpaling dan muka sangar pelatihnya, Pak Leo, telah menunggu seakan-akan ingin menerkamnya.

“Lyka, setelah ini kita langsung melakukan evaluasi,” kata Pak Leo.

“Iya Pak!” Sahut Lyka tanpa semangat.

Tiga puluh menit kemudian setelah dibombardir pelatihnya dengan hasil evaluasi kekalahan, Lyka semakin merasa lelah. Dia hanya ingin cepat-cepat masuk kamar hotel dan mandi air hangat.

“Kenapa ya, gue selalu bikin banyak unforced error. Pemain Inggris itu juga gak oke-oke amat. Ya tuhaaan!!” Gumam lyka.

Di koridor hotel Lyka berpapasan dengan Hu Xinbiao, pemain bulutangkis pria asal Cina. Hu Xinbiao adalah pebulutangkis yang sedang menanjak popularitasnya setelah meraih gelar super series pertamanya di Jepang Terbuka. Lyka sebenarnya sudah menaruh perhatian kepada Hu Xinbiao sejak mereka masih berstatus atlet junior. Pada tahun 2008 ketika keduanya berusia 18 tahun mereka berhasil menjadi juara World Junior Championship (WJC) dalam nomor tunggal putera dan tunggal puteri.

Sekarang Lyka dan dan Hu Xinbiao telah naik kelas menjadi peman senior. Karir Hu Xinbiao tetap stabil seperti ketika dia masih junior, bahkan dia sudah pernah menumbangkan pemain-pemain dunia dari Indonesia, Korea, Malaysia, bahkan seniornya sendiri dari Cina. Walaupun banyak pengamat yang menilai bahwa Xinbiao menang karena taktik dari pelatih kepala Cina. Sedangkan Lyka masih tidak bisa bersaing di level senior. Ketika menjadi juara tunggal puteri WJC, banyak media yang menggadang-gadang Lyka sebagai pernerus kedigdayaan Susi Susanti dan Mia Audina. Namun ternyata prediksi tersebut meleset. Jangankan menjadi penerus Susi dan Mia, Lyka bahkan sering tumbang di babak awal oleh pemain negara-negara yang sering dianggap negara kelas 2 oleh pengamat bulutangkis, seperti Thailand, India, dan Inggris.

Hu Xinbiao yang sedang menancapkan namanya di dunia perbulutangkisan mulai mendapat banyak fans. Fisiknya memang sangat mendukung yaitu dengan kulit kuning langsat khas orang Cina, tinggi 185 cm, perawakan tubuhnya yang atletis serta wajah yang tampan membuatnya banyak disukai pecinta bulutangkis perempuan, terutama yang remaja puteri. Hal inilah yang membuat Lyka beranggapan bahwa Xinbiao seorang playboy dan ia pun mencoba menghilangkan rasa sukanya terhadap Xinbiao.

“Kok bisa sih dulu gue naksir dia?” Gumam Lyka.

Mereka berpapasan tanpa saling menyapa, namun Lyka merasa sudut mata Xinbiao seakan-akan memperhatikannya

Lyka terbangun dan panik ketika melihat jam sudah menunjukkan jam 10. “Ya Tuhan, gue ketinggalan pesawat.”

Lyka terburu-buru mengambil handuk dan ia melihat catatan dari Susan teman sekamarnya.

“Loe tidur kayak kebo, udah gue coba bangunin loe tetep ngorok, jadi loe ditinggal. Jadi naik pesawat sendirian aja y. nanti pas nyampe di Swiss, kita nginap di hotelSpalentor. Naik taksi aja, tukang taksi pasti tau tempatnya. Love ya!” Susan

“Bagus!” Lyka menuju kamar mandi

Lyka duduk nyaman di kelas bisnis pesawat British Airwaysyang akan membawanya dari London Heathrow Airport ke Zurich Airport. “Mudah-mudahan temen seperjalanan gue asyik diajak ngomong.” Dan datanglah teman seperjalanan Lyka, seorang pria, dan dia adalah….

“HU XINBIAO!” Lyka terkejut.

“Hi, Amanda Virnilyka Salman” Xinbiao tersenyum kepada Lyka.

“ Hi, ni hao!

“ Ni hao, I can speak English by the way.”

“Wow, you’re here. Kenapa kemarin kamu kalah ya lawan Andrew?”

“Yeah, tapi aku gak terlalu sedih.”

“Kenapa?”

“Karena untuk 1 jam 40 menit ke depan aku bisa duduk di sampingmu. Kebetulan sekali ya. Jika aku tidak kalah kemarin, pasti aku tidak bisa ke Swiss secepat ini.”

Lyka tersenyum tersipu mendengar pernyataan Xinbiao.”Oke, jadi Xinbiao kamu sendirian aja ke Swiss. Apakah ada pemain Cina lainnya yang telah tereliminasi dari kompetisi All England?”

“Aku yang pertama, pemain Cina lainnya masih belum ada yang tereliminasi, dan kalau kamu tidak biasa memanggil aku Xinbiao, kamu bisa memanggilku Nelson, that’s my English name.”

“Oke, you can call me Lyka, that’s my nickname. Hmmm, berarti kamu sendirian aja di Swiss, gak ada teman.”

“Kamu mau nemenin?” Nelson menaikkan alis kanannya.

“Tergantung.”

“Tergantung, apa?”

“Gak tau. Udah ya aku mau tidur dulu.” Lyka menyandarkan kepalanya kearah jendela. Sebelum tertidur ia melirik kea rah Nelson, yang sedang tersipu.

Lyka merasakan kepalanya diguncang. Dia membuka mata dan melihat apa yang terjadi kepadanya. Ternyata Lyka menyamdarkan kepalanya ke bahu Nelson.

“Sorry to wake you up, tapi sebentar lagi kita akan mendarat.”

“O ya? That fast?” Lyka meregangkan otot tangannya.

Lyka dan Nelson keluar dari bandara Zurich bersama-sama. Mereka terlihat sangat akrab terhadap satu sama lain.

“Kamu menginap di hotel apa?” Tanya Nelson. Angin menghembuskan rambut hitam Nelson. Membuatnya semakin tampan. Lyka takjub melihat pemandangan tersebut sehingga dia tidak terlalu mendengar pertanyaan Nelson.

“Hah, apa pertanyaanmu tadi?”

“Aku bertanya kamu menginap di hotel apa?” Nelson tersenyum.

“Oh, mmm, akk, aku menginap di hotel apa ya, sebentar.” Lyka mengeluarkan secarik kertas pesan dari Susan. “Spalentor hotel.”

“Wow, kita menginap di hotel yang sama. Hmmm, Lyka, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?”

Lyka menyebutkan nomor ponselnya. “Karena hotel kita sama bagaiman kalau kita naik taksi bareng?”

Nelson menyahut, “Syukurlah kamu menawarkannya lebih dulu.”

Lyka dan nelson pun menaiki taksi yang sama. Sesampainya di hotel sahabat Lyka yaitu Susan sudah menantinya di Lobby hotel. Mata Susan melebar ketika melihat Lyka ternyata memakai taksi yang sama dengan Nelson. Tapi dia diam saja dan hanya tersenyum pada Nelson. “Ayo Lyka kita naik.”

“Sebentar, San!” Lyka berpaling ke ara Nelson. “Nelson, mau naik bareng gak?”

“Kamu duluan aja, aku masih belum check in.”

“Baiklah, aku duluan, terima kasih ya sudah membayar taksi itu.”

“Sama-sama.”

Lyka dan Susan masuk ke dalam hotel dan menuju kamar mereka di lantai tiga. Susan, walaupun terlihat sangat penasaran mengenai apa yang terjadi pada Lyka dan Nelson memilih diam dan membiarkan sahabatnya itu beristirahat.

Selesai mandi sore, Lyka mengecek ponselnya dan ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. “Hmmm, siapa ya?” Lyka melatakkan poselnya dan mengeringkan rambutnya menggunakan hairdrayer. Beberapa saat kemudia terdengar bunyi sms masuk. Nomor yang sama dengan yang telah menelpon Lyka.

“Hi lyka, good afternoon. I’m Nelson, or Hu Xinbiao. I just wanna ask, are you free tonight?”

Lyka tersenyum dan memencet tombol ponselnya, membalas sms Nelson. “Yeah, I’m free tonight. What’s up!”

“Well, I saw your draw and you are promoted to main draw, artinya kamu gak perlu ikut kualifikasi besok, jadi aku mau tanya kamu mau gak makan malam dengan ku malam ini, bagaimana kalau jam 7, kita ketemu di lobby. Eh, pakai baju yang casual saja ya?”

Lyka langsung melompat-lompat di atas ranjang. Dia sangat senang ternyata Nelson mengajaknya kencan. Setelah bisa menguasai dirinya Lyka membalas sms Nelson. “Oke, jam 7 di lobby, see you there!

Lyka merebahkan dirinya di kasur. Dengan malu dia menutup mukanya dengan bantal.

Lyka diajak Nelson ke salah satu cafe. Café itu terlihat lengang namun dipenuhi oleh anak muda lainnya yang juga menghabiskan Senin malam. Sehabis dari café mereka pergi ke taman di pusat kota Basel. memang Nelson masih sungkan untuk memegang tangan Lyka, walaupun Lyka tampaknya tidak keberatan jika Nelson melakukan itu.

“Sudah jam 9, apakah kita tidak seharusnya kembali ke hotel?” Tanya Nelson

“Itu ide yang bagus.” Sebenarnya Lyka berharap dia masih bisa menghabiskan waktu dengan Nelson. Tapi Lyka juga mengerti bahwa walaupun dia sudah bisa ke Babak utama namun dia besok juga harus latihan. Menurut Lyka tugas negara harus di atas segalanya.

Lyka dan Nelson memasuki lobby hotel. Di sana sudah ada pelatih kepala Cina yaitu Zhang Gen. Zhang Gen memanggil Nelson, Nelson tampak terkejut dan gugup menghadapi pelatihnya. Lyka pamit pada Nelson dan tersenyum menghormati Zhang Gen.

Sebelum memasuki lift, Lyka melihat Zhang Gen tampak memarahi Nelson. Zhang Gen memang terkenal galak, dan melarang pemainnya untuk berbicara dengan pemain dari negara lain.


Hari kelima kejuaraan Swiss Terbuka yang berlangsung di St. Jakobshalle hall di kota Basel. Lyka berhasil menapak ke babak final setelah mengalahkan berturut-turut pemain Ukraine, Hongkong, dan secara mengejutkan menumbangkan pemain unggulan ketiga asal Korea. Di semi final ini dia berhasil mengalahkan unggulan kedua asal China yaitu Wang Yunlei. Wang Yunlei adalah pemain kidal dimana penempatan bolanya sering susah ditebak dan memiliki smash yang sangat keras.

Di set pertama Lyka di bantai habis-habisan oleh Wang. Lyka hanya mendapat sembilan poin sebelum akhirnya menyerah kalah 21-9. Di set kedua Lyka untungnya bisa mengimbangi permainan Wang Yunlei dan menang dengan angka tipis 21-19. Hasil ini memaksa kedua pemain harus memainkan set penentuan. Lyka berhasil menguras tenaga Wang Yunlei karena ia banyak mengeluarkan tenaga dengan smash-nya di babak 1 dan 2. Khususnya di babak ke-2 smash Wang banyak yang menyangkut di net, sehingga energinya terbuang sia-sia. Di set ke-3, Lyka yang terkenal dengan Gaya Malas-nya berhasil membuat Wang Yunlei pontang-panting mengejar bola ke setiap sudut lapangan. Dropsot tipisnya menyisir sudut lapangan dan bola pun masuk. Wang Yunlei takluk dari seorang non-unggulan Amanda Virnilyka Salman dengan skor 21-4, 19-21, 21-15.

Lyka melompat gembira dan memeluk pelatihnya Pak Leo Sihombing. Mereka sangat bahagia karena Lyka berhasil untuk pertama kalinya mencicipi final Grand Prix Gold pertamanya.

Setelah memberikan wawancara kepada Badzine, Lyka melihat Nelson dengan wajah murung. Pertandingan Lyka dan Nelson memang bersamaan, jadi Lyka mengambil kesimpulan bahwa Nelson telah kalah dari seniornya yaitu Bao Nan, pemain tunggal putera China.

Lyka pergi ke player lounge ketika ia berpapasan dengan Zhang Gen. “Hello Miss Salman, can I talk to you for a moment?”

Lyka tampak terkejut, ia tidak mengira Zhang Gen mau berbicara dengannya setelah ia mengalahkan salah satu anak asuhnya. “Of… of course, Sir!”

“I want you to stay away from Hu Xinbiao. Kalian memang masih muda dan wajar sekali kalau kalian tertarik satu sama lain. Dan jika kamu sayang dengan Xinbiao, tolong biarkan dia bermain bulutangkis dengan tenang. Dia terlalu banyak memikirkanmu sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi dan kalah bertanding. Jadi, tolong camkan kata-kata saya baik-baik. Selamat sore!” Zhang Gen pergi meninggalkan Lyka yang tampak terpukul oleh pernyataannya tadi.

Beberapa saat kemudian, Nelson keluar dari player lounge dan mendapati Lyka tengah galau. Ia juga melihat Zhang Gen berjalan menuju hall. “Lyka, are you alright?” Nelson memegang bahu Lyka.

Lyka yang masih merasa kesal setelah diberi ultimatum oleh Zhang Gen, menepin tangan Nelson di bahunya. “Leave me alone!”

“Ada apa? Apa yang telah dikatakan oleh Pak Zhang?”

“Sudahlah, kamu tanyakan saja padanya, aku mau pulang.”

“Hei, LYKA, LYKA!” Lyka tidak menghiraukan panggilan Nelson dan memilih untuk meninggalkan St. Jakobshalle untuk menuju ke hotelnya.

Di hotel Lyka menangis. Ia merasa telah jatuh cinta dengan Nelson, tapi dia tidak menyangka ternyata dia merupakan hambatan bagi Nelson untuk menjadi pemain dunia. Terdengar pintu kamar dibuka dan Susan pun masuk.

“ARRRGGGHHH, tau gak sih,Lyka, gue tadi lagi-lagi dikalahin si kera sakti. Si Robert yang hiperaktif itu. Gue sama kokoh Edo jadi gak bisa konsentrasi dan kalah deh. Padahal permainan kita jauh lebu=ih baik daripada pasangan ‘polandia itu. Mmm… Lyka, loe tidur ya? Cape deh, gue dari tadi ngomong sendirian. Mandi aja ah.” Susan meletakkan tas raketnya, mengambil handuk, dan menuju ke kamar mandi.

Lyka sebenarnya belum tidur, tapi dia masih belum siap untuk bercerita kepada Susan mengenai masalahnya.


Lyka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan permainannya. Lu Xiaoli sama sekali tidak mau berkompromi dan ingin menyelesaikan permainan dengan secepat-cepatnya. Tingginya 1,80 cm menjulang sehingga Lyka tidak bisa serta merta mengeluarkan lob-lob serang andalannya, karena ketika di lob, Lu Xiaoli pasti akan langsung mengeluarkan jump smash andalannya. Lyka tidak berdaya. Game point 20-4 untuk keunggulan Lu Xiaoli. Lyka menerima serve dari Xiaoli dan menyangkut di net. “Game!” wasit asal Malaysia, menyatakan keunggulan Lu Xiaoli di set pertama.

Lyka merasa ada tetesan air di atas kepalanya. Ia mendongak dan mendapati ternyata atap St. Jakobshalle ternyata bocor karena hujan deras. Lyka menghampiri wasit, dan wasit menyatakan pertandingan ditunda dan harus dialihkan ke court yang lain. Pertandingan ditunda selama setengah jam karena crew televisi juga harus memindahkan peralatan mereka agar bisa digunakan di court yang baru. Lyka meminta izin kepada Pak Leo ke luar hall untuk menjernihkan pikirannya. Pak Leo, walaupun kelihatannya galak, memberi izin Lyka keluar hall. “ Tapi ingat, Cuma 15 menit ya.”

“Iya, Pak! Terima kasih!”

Lyka keluar hall untuk menikmati pemandangan. Ia bersyukur di Swiss tidak banyak orang mengenalnya, serta ketika ia keluar hall penonton hanya menyapanya saja. Tidak ada yang meminta ia foto bareng. Lyka memang tidak dalam mood ingin berfoto.

“Lyka!” Seseorang memanggilnya. Tanpa menoleh pun Lyka tahu siapa yang memanggilnya itu. Dia adalah orang yang beberapa hari ini menelepon Lyka shingga Lyka hafal karakter suara orang tersebut.

“Nelson, aku khawatir jika kamu menghampiri aku, kamu akan mendapat hukuman dari Pak Zhang Gen.” Lyka menolak melihat kea rah Nelson.

“Aku mendengar apa yang telah dikatakan oleh Pak Zhang, dan asal kamu tahu saja, aku kalah bukan karena kamu. Aku kalah karena disuruh oleh orang tua itu.”

“Jadi, kemarin aku dibohongi Zhang Gen?”

“Ia, dan aku rela keluar dari Asosiasi bulutangkis Cina, jika hubungan kita ini dilaranga. Ya Tuhan, aku sudah menunggu selama tiga tahun untuk mengatakan ini, jadi aku tidak mau lagi menunggu sedetik lebih lama. Lyka, aku sudah mencintaimu ketika umur kita 18 tahun, dan sampai sekarang aku masih mencintaimu.”

Lyka melongo, dia tidak menyangka, Nelson menyatakan cinta padanya. “Jadi, apakah kamu mau menjadi pacarku?” Nelson memecahkan kebingungan Lyka.

“Heh, wow, mmm…”Lyka menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.”Aku pun sudah suka denganmu ketika kita masih junior, dan tadi malam ketika hubungan kita ditentang oleh Zhang Gen aku yakin ternyata perasaan ku ini lebih dari sekedar rasa suka. Aku juga mencintaimu Hu Xinbiao.”

Di depan hall St. Jakobshalle Lyka dan Nelson berpelukan. Udara musim semi Swiss yang hangat menjadi saksi pengakuan cinta mereka berdua. “Apakah kamu mau kita kabur saja?”

“Hahaha, aku memang mencintaimu, tapi maaf aku menolak kabur denganmu dan aku harus menyelesaikan pertandinganku dulu.”

“Oke, mari kita masuk. Aku juga mencintaimu dan aku cinta dengan negaraku. Jadi apakah sebaiknya aku mendukung LuXiaoli?”

“Hmmmm, pernyataan cintamu tadi sudah merupakan motivasi bagiku. Jadi aku tidak peduli jika nanti kau mendukung Lu. Yang pemting aku tahu di mana hatimu berada.”

Lyka membimbing Nelson masuk ke dalam hall.


Kedudukan 29-28 di set ke-3 untuk keunggulan Lu Xiaoli. Set ke-3 dilakukan setelah Lyka berhasil merebut set ke-2 dengan skor 21-15. Lyka menerima serve dari Lu dan dikembalikan Lu ke daerah baseline. Lyka ragu-ragu, apakah bola itu masuk atau keluar. Sebelum bola menyentuh karpet, Lyka mengangkat bola. Bola itu tanggung dan Lu siap-siap menyemesh. Lyka terlihat pasrah menerima kekalahan dan ternyata….. Lu Xiaoli terlalu bernafsu untuk menyemesh bola sehingga smashnya menyebabkan bola sangkut di net. Lu terlihat sangat kesal dengan dirinya. Lyka terlihat lega.

Lyka melakukan serve dalam kedudukan 29-29. Bola disambut Lu Xiaoli dengan pengembalian yang sangat tipis di depan net, tapi bisa diatasi Lyka dengan pengembalian tipis pula. Rally pun terjadi. Tidak ada pemain yang melakukan kesalahan, mereka sama-sama ingin menang. Lu Xiaoli kembali menggulirkan bola di net. Pengembalian yang sangat tipis sehingga Lyka harus mengangkat bola. Lu melompat tetapi dia tidak melakukan smash, hanya dropshot. Lyka yang mengira bola dismash memaksanya untuk menjatuhkan diri untuk mengambil bola. Sayangnya, Lyka gagal meraih bola.

“Game!” Wasit menyatakan Lu Xiaoli pemenangnya dengan skor 21-4 15-21 30-29 dengan waktu 75 menit.

Lyka tertunduk lesu melihat ia kalah. Lu sangat senang dan ia melempar raketnya ke penonton. Lyka menyalami wasit dan service judge serta Lu Xiaoli setelah ia melakukan selebrasi kemenangannya.

“Tidak apa-apa, Lyka, tadi kamu sudah main bagus. Bapak sangat bangga.”kata Pak Leo.

Lyka tersenyum, ia melihat ke bangku penonton Nelson bertepuk tangan dan tersenyum pada Lyka.

“Gelar ini hanya merupakan awal dari sederet prestasiku lainnya. Selanjutnya aku pasti bisa menjadi juara. Terima kasih semuanya.” Kata Lyka dalam hati. Dia mengambil peralatan raketnya, dan bersiap-siap untuk melakukan victory ceremony.

T H E E N D

date Selasa, 25 Januari 2011